Titus 2:11-14

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Beberapa tahun lalu, ada sebuah lagu populer yang berada di tangga lagu teratas. Bagian refrein lagu tersebut dinyanyikan oleh paduan suara rohani, dengan lirik “Yesus jalan sertaku”. Lirik tersebut memiliki latar belakang kisah yang sangat luar biasa. 

Lagu ini ditulis oleh musisi jazz Curtis Lundy (foto) ketika ia mengikuti program rehabilitasi bagi pecandu kokain. Ia mengumpulkan para pecandu dan menemukan inspirasi dari sebuah buku kidung rohani tua. Ia pun menulis bagian refrein tersebut sebagai kidung pengharapan bagi mereka yang sedang direhabilitasi. Curtis Lundy juga membentuk paduan suara rohani yang terdiri dari mantan para pencandu.

curtislundy

Apa reaksi dari para anggota paduan suara rohani tersebut? “Kami menyanyi demi hidup kami,” komentar salah seorang anggota paduan suara itu mengenai himne tersebut. “Kami meminta Yesus untuk menyelamatkan kami, agar menolong kami keluar dari kecanduan.” Seorang anggota yang lain mengaku rasa sakitnya berkurang saat ia menyanyikan lagu itu. Paduan suara tersebut bukan hanya menyanyikan lirik di atas kertas, tetapi menyampaikan permohonan yang sungguh-sungguh untuk dipulihkan.

Bacaan Kitab Suci hari ini menggambarkan pengalaman mereka dengan sangat baik. Dalam Kristus, Allah kita telah datang untuk menawarkan keselamatan bagi semua manusia (Titus 2:11). Meski hidup kekal merupakan bagian dari kasih karunia itu (ayat 13), Allah sedang bekerja dalam diri kita sekarang, memberi kita kekuatan untuk mendapatkan kembali pengendalian diri, menolak hasrat duniawi, dan menebus kita untuk hidup bersama-Nya (ayat 12 & 14).

Sebagaimana yang disadari para anggota paduan suara tadi, Yesus tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membebaskan kita dari gaya hidup yang merusak. Kita juga yakin dan percaya bahwa Yesus berjalan serta bersama kita atau dengan siapa saja yang berseru kepada-Nya untuk memohon pertolongan. Dia menyertai kita, untuk menawarkan pengharapan bagi masa depan dan keselamatan pada masa kini.

Rasul Paulus mengingatkan akan kasih karunia Allah yang telah nyata. (ayat 11) Kasih karunia Allah yang menyelamatkan itu, tidak berhenti di Golgotha, melainkan terus bekerja sebagai kekuatan yang membaharui hidup orang-orang percaya. Allah telah berkarya menyelamatkan manusia dan membebaskan kita dari segala dosa. Kita diselamatkan bukan untuk hidup semena-mena, tetapi untuk menjadi umat milik Tuhan yang kudus dan yang selalu berbuat baik (14).

Jadi, kasih karunia itu tidak hanya memberikan pengampunan dosa, melainkan kasih karunia Allah yang digambarkan sebagai pribadi juga mendidik kita. Dalam arti mengajar kita mengenai kehendak Allah dan memberi kekuatan untuk melaksanakannya. Cara kerja kasih karunia Allah itu mempunyai dua sisi, yang negatif dan positif.

Sisi negatif berwujud dalam hal meninggalkan kefasikan dan segala keinginan duniawi yang jahat, seperti hawa nafsu, ketamakan, dan apapun itu, yang menguasai diri manusia sehingga membuat kita jauh dari Allah. Kata “meninggalkan” menunjuk adanya pemutusan hubungan dengan hidup lama, yang berpusat pada diri sendiri.

Sedangkan sisi yang positif berwujud dalam 3 hal:
1. Relasi dengan diri sendiri. Hidup bijaksana (dalam bahasa aslinya berarti dapat menguasai diri). Ini menunjukkan sikap baru dari orang percaya terhadap dirinya, yakni bisa menguasai diri.
2. Relasi dengan sesama. Adil. Dalam hubungannya terhadap sesama manusia, orang percaya terpanggil untuk bersikap adil. Kita membutuhkan hikmat Tuhan agar dapat bersikap adil terhadap seama.
3. Relasi dengan Tuhan. Beribadah. Wujud sikap baru dari orang percaya, dalam hubungannya dengan Allah, adalah beribadah. Dalam arti, kita harus tetap percaya dan selalu berada dalam persekutuan dengan Allah. Tidak berjalan sendiri.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Dengan lain perkataan, Allah mendidik kita supaya meninggalkan kefasikan dan keinginankeinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita.

Alm pdt Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa orang Kristen masa kini sedang berada dan hidup di antara dua advent: Setelah advent yang ke I yakni kedatangan Kristus yang pertama dan menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali (Advent ke II). Atau seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, kita sedang berada dalam satu kondisi sudah namun belum genap (already but not yet).

Di satu sisi, kita tetap waspada menjalankan hidup sehari-hari dalam kesalehan atau kekudusan dan di sisi lain, selama penantian kedatangan Kristus kedua kali, kita tetap aktif menjalankan tugas dan panggilan yang Tuhan percayakan kepada kita. Ayat 13 dari perikop kita, mengatakan: “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,”

Menanti dan menantikan, oh kita tahu semua bahwa itu bukan suatu hal yang menyenangkan, bukan. Mengapa? Karena kita berada di dalam situasi yang tidak pasti dan tidak bisa kita “kontrol”, terlebih lagi kalau kita harus menantikannya seorang diri. Saat kita menanti-nantikan sesuatu itu tidak kunjung datang, berbagai perasaan negatif akan bermunculan. Apalagi seseorang atau sesuatu yang diharapkan itu tidak kunjung tiba. Perasaan tidak senang, jemu/bosan, gelisah, cemas, galau, takut, kesal, kecewa atau marah akan muncul silih berganti.

Kita manusia, dengan kehendak bebas yang Tuhan berikan, cenderung untuk mau mengatur atau mengontrol semuanya. Tapi ingat kita ini, hanya aktor dan aktris saja bukan sutradara dalam kehidupan ini. Tuhan lah Sang Sutradara Agung, kehidupan kita.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Melalui perikop kita, khususnya ayat 13, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kita harus menunggu penggenapan pengharapan dengan penuh sukacita. Kita harus menunggu dengan bahagia akan penyataan kemuliaan Allah Yang Maha Kuasa. Kita harus bersukacita dan bahagia menunggu pengharapan dan penyataan kemuliaan Allah menjadi realita. Kita harus bahagia, damai sejahtera dan penuh sukacita menantikan pemenuhan janji-janji Tuhan.

Dalam masa Advent atau masa penantian ini, masih ada tugas bersama yang harus kita lakukan sebagai pengikut Kristus, yakni rajin berbuat baik. Pertanyaan untuk kita semua: Kapan terakhir, kita melakukan kebaikan untuk sesama? Ingat bahwa motivasi kita dalam rajin berbuat baik, bukan untuk mendapat pahala atau keselamatan. Allah mellaui Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita. Sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang dianugrahkan kepada kita, mari kita rajin berbuat baik.

Perikop kita yang terambil dari Titus 2:11-14 menjelaskan dasar fondasi teologis bagi kehidupan orang Kristen. Karena karya keselamatan Yesus, penebusan-Nya membawakan pengharapan dan mendorong kita menegakkan kebajikan, maka orang percaya harus memiliki kebajikan. Ketika kita telah mengalami anugerah keselamatan dalam Kristus maka tidak saja terjadi pemulihan tetapi juga ada perubahan positif dalam hidup kita. Kita aktif berusaha keras mengejar dan melatih berbagai macam kebajikan dalam kehidupan.

Memang tidak mudah hidup di dalam penantian. Masa pandemi yang melanda dunia, beberapa tahun terakhir ini, mengajarkan kita betapa tidak mudah dan tidak nyaman berada dalam masa penantian. Tetapi kita bersyukur atas berita sukacita Natal yakni berita kedatangan Allah melalui Yesus Kristus, ke dalam dunia ini, untuk ada dan hadir bersama kita. Jadi kita berjalan bersama dengan Yesus di dalam masa penantian ini.

Kita saat ini berada dalam minggu adven ke 4. Minggu Adven adalah masa penantian. Perikop kita menyatakan dan mengingatkan kita bahwa penantian ini sebagai pengharapan kita yang penuh bahagia, yakni membawakan berkat pengharapan. Mari kita menantikan penggenapan pengharapan kita dengan penuh sukacita.

Sebagai penutup, saya mengajak kita semua menyanyikan sebuah lagu rohani anak-anak, yang berjudul “Jalan Serta Yesus”. Lagu ini mengingatkan kita semua bahwa kita tidak sedang berjalan sendiri pada masa penantian ini. Tetapi kita berjalan bersama Yesus. Tuhan memberkati kita semua. AMIN.

Jalan serta Yesus
Jalan sertaNya setiap hari
Jalan serta Yesus
Serta Yesus slamanya
Jalan dalam suka, jalan dalam duka jalan serta-Nya setiap hari
Jalan dalam suka, jalan dalam duka serta Yesus slamanya
Walking with Jesus
Walking everyday, walking all the way Walking with Jesus
Walking with Jesus along
Walking in the sunlight,
Walking in the shadow
Walking every day, walking all the way Walking with Jesus
Walking with Jesus along