Schriftlezing: Kejadian 1:25-31

Sdr-sdr yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus,
Kotbah minggu ini adalah bagian dari prekenserie GKIN 2023 yang berdasarkan pada tema tahunan yakni “Gereja, tempat dimana penyembuhan dan pemulihan terjadi – dalam hubungannya dengan Penciptaan”/ “De kerk waar genezing en heling plaatsvindt (in relatie met de schepping). Mari kita saksikan cuplikan video dari seri dokumentasi BBC yang meng-gambarkan sebagian dunia atau planet bumi yang Tuhan ciptakan untuk kita tinggali dan nikmati.

https://www.youtube.com/watch?v=aETNYyrqNYE

Geliefde broeders en zusters in de Here Jezus,

Mungkin tanpa kita sadari, ternyata bumi atau dunia dan alam semesta, ciptaan Tuhan ini sangat indah dan menakjubkan, bukan? Melalui video-clip tadi kita diingatkan bahwa dalam bumi atau dunia ini selain manusia yang hidup di dalamnya, ada begitu banyak mahkluk hidup ciptaan Tuhan lainnya, termasuk hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan

Tetapi kita manusia cenderung lupa bahwa kita harus berbagi dunia atau bumi ini dengan ciptaan Tuhan lainnya. Dunia atu bumi ini adalah rumah kita bersama. Bukan hak mutlak milik manusia saja! Semoga melalui cuplikan video tadi, kita manusia semakin tergugah untuk lebih mengerti dan mengenal betapa pentingnya menjaga ekosistem kehidupan. Menjaga dan merawat dunia atau bumi yang kita tinggali bersama ini. Mengapa?

Kita tahu dan mengalami sendiri, bahwa dunia atau bumi yang kita tinggali dan yang telah menjadi rumah kita bersama, semakin lama semakin tidak layak untuk dihuni. Belum lama ini, saya sempat mendengar berita dan juga ada artikel yang menulis bahwa dalam dunia ini sudah terlalu banyak manusia yang hidup di dalamnya. Sudah terlalu padat dan tidak nyaman untuk ditempati oleh sebab itu harus dikurangi jumlah atau populasi penduduk dunia. Bahkan ada yang berani berasumsi atau mengatakan bahwa virus atau Covid 19 adalah upaya untuk mengurangi jumlah penduduk dunia. Tentu itu hak seseorang untuk berpendapat demikian. Kita tidak harus setuju dengan pandangan itu.

Namun harus kita akui dengan jujur bahwa dunia atau bumi ini, perlahan-lahan sedang menuju pada kerusakan bahkan kehancuran. Kita bisa bayangkan, kalau kita harus tinggal di rumah yang banyak kerusakan, tentu tidak nyaman bukan. Cuaca yang ekstrem, di mana udara bisa begitu sangat dingin atau panas sekali. Lalu munculnya badai dan angin topan yang menakutkan. Siapa yang sangka beberapa tahun yang lalu di Eropa terjadi banjir badang (tsunami) dan tanah longsor. Belum lagi meningkatnya kepunahan dari hewan, tumbuhan dan buah-buah langka.

Badan Pemerhati hak asasi anak se-Dunia atau UNICEF baru-baru ini merilis laporan bahwa pada tahun 2050, hampir setiap anak di planet ini—lebih dari 2 miliar anak—akan sering mengalami gelombang panas sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dokter anak mengatakan bahwa anak kecil dan bayi lebih rentan terhadap penyakit yang berhubungan dengan panas, sebagian karena tubuh mereka tidak dapat mengatur suhu seefektif orang dewasa.
Anak-anak juga kehilangan cairan lebih cepat dan berisiko lebih besar terkena sengatan panas karena mereka kurang pertimbangan dan kedewasaan yang diperlukan untuk mengurangi aktivitas fisik mereka atau tahu untuk rehidrasi. Panas ekstrem juga diketahui memicu gejala pada penderita asma, yang memengaruhi sekitar 6 juta anak di AS saja. Saya bisa mengerti, ketika salah satu pasangan bina pra-nikah yang pernah saya pimpin, dengan sadar mengatakan bahwa mereka tidak ada rencana untuk memiliki anak, karena nanti kasihan hidup anak itu.

Isu lingkungan hidup yang akhir-akhir ini banyak disoroti adalah pemakaian bahan plastik. Mari kita saksikan video clip lain yang menggambarkan bagaimana dunia atau bumi ini mengalami kerusakan sebagai akibat dari pemakaian plastik dan pembuangan yang tidak pada tempatnya (video clip) Sekarang kita bisa mengerti, mengapa kalau beli minuman dari botol atau kemasan plastik harus membayar uang jaminan (statie geld). Di Belanda kita harus membayar uang jaminan 15 cents per botol. Bahkan sekarang bukan saja minuman dari bahan plastik tetapi juga dari minuman dari kaleng haeus bayar statie geld.

Statiegeld
Blikjes
Sebagai sesama penghuni bumi, mari kita bersama-sama merawat rumah kita bersama agar tidak rusak keutuhannya. Sebab, dari hasil bumi, seperti ikan, kita beroleh sumber makanan terbaik yang memiliki nutrisi penting bagi kesehatan tubuh kita. Maka, jangan racuni sungai dan laut dengan limbah sampah.

Alkitab mengajarkan mengenai keutuhan ciptaan dan memanggil manusia untuk memelihara Taman Eden (Kejadian 2:15). Tuhan dalam Alkitab adalah Tuhan yang melindungi, mencintai dan merawat yang paling rentan di antara ciptaan-Nya. Cerita dalam Alkitab dimulai dengan rangkaian kejadian tentang penciptaan seluruh alam semesta. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, berulang-ulang kali disebutkan bahwa Tuhan Allah melihat semuanya itu baik dan berpuncak pada penilaian terakhir di hari ke enam (ayat 31) dikatakan, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik…”

Kalau kita perhatikan perikop kita, khususnya ayat 26-28, kita bisa belajar bagaimana Tuhan Allah bekerja di dalam peristiwa penciptaan manusia dan keterkaitannya dengan alam semesta:

Pertama, bahwa manusia secara pribadi diciptakan Tuhan segambar dan serupa Allah (ayat 26a). Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Artinya hanya manusia yang dikatakan menyandang gambar Allah. Manusia diciptakan Tuhan untuk memancarkan sifat-sifat Tuhan atau memancarkan kemuliaan-Nya. Sedangkan planet bumi diciptakan atau dirancang secata khusus sebagai tempat kediaman atau rumah umat manusia.

Kedua, tidak hanya menyangkut keberadaan manusia secara individu, kita juga menemukan tujuan Tuhan yang lain atas penciptaan manusia, yaitu memberi tanggung-jawab untuk “berkuasa” atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, atau ternak, atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (ayat 26b). Hal ini menyangkut aspek pengelolaan atas seluruh ciptaan Tuhan.
Jadi kita ini bukan pemiliknya tetapi hanya pengelola. Memang kita diberi mandat untuk berkuasa tetapi kita juga harus mempertanggungjawabkannya kepada Sang pemilik.

Ketiga, kita menemukan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan itu adalah laki-laki dan perempuan (ayat 27), tidak hanya menjadi individu saja, tetapi juga diperintahkan untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi (ayat 28). Dari situ kita tahu bahwa Tuhan menghendaki manusia membentuk komunitas keluarga, masyarakat, dan bangsa-bangsa. Sungguh segala sesuatunya diciptakan Tuhan dalam kesatuan dan keterkaitan yang baik untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Jadi untuk membangun rumah kita bersama yang namanya bumi, tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kerja sama, saling bergandeng tangan dan berjuang bersama untuk melindungi bumi – rumah kita bersama – dari kerusakan lingkungan. Kita semua terpanggil untuk menjaga dan memelihara ciptaan Allah. Untuk menjadi penatalayan dari semua yang Tuhan telah ciptakan dan percayakan kepada kita.

Pertanyaannya, mengapa masih banyak orang Kristen yang tidak terlibat di dalam pemeliharaan dan perawatan alam semesta? Menarik, ada sebuah artikel yang mengatakan: bahwa hal itu dikarenakan, masih banyak orang kristen yang memahami bahwa pemeliharaan dan perawatan ciptaan atau alam semesta ini hanya secara ideologis dan bukan dari sudut pandang teologis.

Masih banyak orang kristen yang belum menyadari bahwa menjaga dan merawat alam semesta ciptaan Tuhan ini juga adalah tugas dan panggilan bagi setiap orang kristen. Jadi bagaimana seharusnya pandangan kita secara Kristiani tentang pemeliharaan dan perawatan terhadap dunia atau bumi, ciptaan Tuhan ini?

Hal pertama dan paling mendasar untuk dipahami tentang ciptaan adalah bahwa Allah lah pencipta dunia ini dengan segala isinya. Seperti yang kita baca dalam Mazmur 24:1, “Tuhanlah yang empunya bumi dan segala isinya. Dan dunia serta yang diam di dalamnya” Bagi kita, realitas tertinggi adalah Allah. Wawasan dunia alkitabiah dimulai dengan Allah, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”
Penegasan bahwa Allah yang menciptakan alam semesta ini, sangatlah penting. Karena menurut wawasan dunia ateis atau bagi orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, dunia ini dimulai dengan alam semesta. Nah karena alam semesta ini bukan milik kita maka kita tidak dapat melakukan sesuka kita. Alam semesta ini adalah milik Tuhan.

Kedua, kita, manusia telah diberi mandat untuk memelihara dan merawat seluruh ciptaan Tuhan, termasuk dunia atau bumi di mana kita tinggal. Hakikat penatalayanan itu, sebagaimana diuraikan dalam Kejadian 1 dan 2, sangat jelas: kita harus mencerminkan citra Allah terhadap ciptaan melalui pengaturan dan pemerintahan, pemeliharaan dan pengawasan. Seperti yang ditulis Dorothy Boorse dalam bukunya Love the Least of These: Addressing a Changing Environment: “Kami tidak memuja ciptaan. Kami menyembah Tuhan dengan merawat ciptaan.”

Ketiga, menurut iman kristiani, kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan dunia atau bumi ini menuju kepada kehancuran. Namun Allah melalui Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita karena Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia ciptaan-Nya. Selanjutnya manusia yang telah ditebus dan diselamatkan terpanggil menjadi rekan sekerja Allah untuk juga menyelamatkan dan memulihkan dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini.

Akhirnya, panggilan untuk menyelamatkan dan memulihkan dunia ini, tidak saja berlaku pada manusia tetapi juga terhadap pemeliharaan dan perawatan ciptaan lainnya. Berlaku juga terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan, baik hewan piaraan maupun hewan liar, ekosistem dan lingkungan hidup di mana kita tinggal. Inilah panggilan kristiani kita, bahwa kita semua bertanggung jawab untuk menjaga, memelihara dan merawat dunia atau bumi ciptaan Tuhan ini, yang telah menjadi rumah kita bersama.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Ajaran Alkitab mengenai kelangsungan dan pemeliharaan lingkungan hidup ini sangat jelas. Tuhan menciptakan dunia ini karena Dia menginginkan-Nya. Dia menganggap dunia ciptaan-Nya ini sangat baik. Dan dunia atau bumi diciptakan agar manusia dapat tinggal di dalamnya dan menikmatinya. Oleh karenanya, kita patut bersyukur karena diberi kesempatan, tidak saja untuk hidup di dunia ini tapi juga dapat menikmati keindahan alam semesta ini.

Kita semua terpanggil untuk keberlangsungan dunia atau bumi ini. Sdr-sdr, saya mengajak kita untuk memperhatikan kalimat penutup dalam kotbah ini: “kalau Tuhan saja sebagai Sang Pencipta begitu menghargai dunia ciptaan-Nya, lalu bagaimana mungkin kita yang hanya dipinjami untuk tinggal di dalamnya, tidak menjaga, memelihara dan merawatnya dengan baik?” Tuhan memberkati kita semua.

AMIN.