Pembacaan Alkitab: Keluaran 13:17-22

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Tidak terasa, kita sudah berada di penghujung tahun. Hari ini adalah hari minggu terakhir di tahun 2020 dan hari minggu depan, kita sudah memasuki tahun yang baru 2021. Tahun 2020 yang kita jalani ini, merupakan tahun yang istimewa, tidak saja bagi kita di Belanda tetapi juga bagi orang-orang di seluruh dunia. Hampir 1 tahun ini, kita hidup di tengah ancaman virus Covid 19. Tentu banyak peristiwa atau kejadian yang kita alami bersama di tahun ini.

Tahun ini, kita juga mendengar atau menyaksikan atau mengalami sendiri dukacita yang mendalam karena kehilangan anggota keluarga atau orang-orang yang kita kasihi. Oleh sebab itu, ada yang mengatakan bahwa tahun 2020 ini adalah tahun kehilangan, kedukaan dan kesedihan. Ketika pandemi Covid 19 ini muncul, kita semua berharap bahwa situasi ini tidak akan berlangsung lama. Ternyata sampai saat ini, pandemi Covid 19 ini masih terus terjadi. Belum pandemi ini berakhir, telah muncul berita tentang virus dengan variasi baru, di United Kingdom (UK) yang diduga lebih cepat menularnya.

Inilah realita dari perjalanan hidup kita saat ini. Walaupun berat dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan namun semua ini telah terjadi di luar kendali atau kontrol kita sebagai manusia. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang baru 2021. Di penghujung tahun ini, saya mengajak kita semua belajar dari cerita dan pengalaman perjalanan bangsa Israel, keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian di Kanaan.  Pada waktu itu, bangsa Israel, telah tinggal dalam perbudakan di Mesir lebih dari 400 tahun. Kita bisa membayangkan hidup selama lebih dari 400 tahun sebagai budak di negeri orang.

Oleh sebab itu, ketika mereka dibebaskan oleh Allah, dari perbudakan di Mesir, peristiwa itu menjadi peristiwa nasional yang sangat penting dan selalu diperingati oleh bangsa Israel. Allah mereka telah menolong keluar dari Mesir. Lalu mereka juga dijanjikan suatu tempat baru yakni Tanah Perjanjian di Kanaan. Ada hal-hal yang menarik dari kisah perjalanan bangsa Israel ini. Coba kita perhatikan peta berikut ini

Ada garis tipis warna merah. Ada garis tebal kuning dan ada garis putus-putus warna ungu.

Ada 2 rute perjalanan menuju Tanah Perjanjian (Kanaan):

Rute pertama adalah jalur yang paling dekat. (Lihat garis tipis merah). Jalur ini disebut: "Jalan Kerajaan". Atau dinamakan juga sebagai "jalan ke negeri orang Filistin". Rute ini  menyusuri pantai utara sepanjang Laut Tengah atau Laut Mediterranean. Menurut Ulangan 1:2, jarak dari Horeb (Gunung Sinai) ke Kadesh-Barnea (Kanaan Selatan) (Lihat garis tebal kuning) adalah sebelas hari perjalanan. Jadi jarak untuk menuju ke Tanah Perjanjian di Kanaan, sebenarnya bisa ditempuh hanya sekitar 2 minggu perjalanan.

Rute kedua adalah rute yang merupakan perjalanan dari bangsa Israel menuju ke Kanaan. Rute ini ditempuh bangsa Israel selama kurang-lebih 40 tahun. Jaraknya ribuan kilometer, melewati padang belantara, menyeberang lautan dan melintasi gunung. Kita lihat di sini ada  perbedaan yang mencolok antara rute pertama dengan rute ke dua. Bayangkan, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 2 minggu, ini harus dijalani selama 40 tahun. Pertanyaannya: Mengapa bangsa Israel harus berjalan berputar-putar menuju Kanaan?

Paling tidak ada menurut para ahli Alkitab, ada tiga pendapat yang diberikan:

Pertama: Hal ini untuk menghindari perang-perang dengan bangsa-bangsa lain pada perjalanan mereka menuju Kanaan. Sebab kengerian keadaan perang dapat menyebabkan orang-orang Israel yang lemah untuk kembali lagi ke Mesir (Keluaran 13:17). Hal ini tentu akan menyebabkan rencana perjalanan ke Kanaan akan menjadi sia-sia. Namun banyak penafsir Alkitab, tidak setuju penjelasan atau pendapat ini. Mereka mengatakan itu tidak masuk akal bahwa bangsa Israel akan takut perang, karena Allah melindungi mereka.

Pendapat yang kedua: Bangsa Israel diizinkan berputar-putar di padang gurun untuk menerima Hukum Taurat dan menyaksikan mujizat-mujizat Allah dalam perjalanan mereka. Sekaligus mereka dididik untuk mengenal Hukum Taurat dan juga memperkuat iman mereka kepada Allah Israel yang Mahakuasa.

Sedangkan pendapat ketiga, mengatakan bahwa bangsa Israel mengembara di padang gurun itu adalah dalam tujuan untuk memperkuat perasaan bangsa dan pembentukan jati diri. Menurut pendapat ini, bangsa yang telah sekian ratus tahun menjadi budak,  tidak dapat berubah secara instan/ drastis dalam waktu yang singkat terhadap perasaan "rendah diri”nya sebagai bangsa budak yang telah terbentuk selama ratusan tahun di Mesir.

Demikianlah mereka menempuh perjalanan yang sedemikian lama dan panjang, bahkan hampir satu generasi (40 tahun). Mereka diharuskan pergi mengembara melalui sebuah perjalanan yang berputar-putar untuk menghilangkan mentalitas budak mereka; sehingga, dengan lamanya waktu perjalanan itu akan menanamkan suatu identitas baru, identitas orang-orang yang merdeka atau sebagai bangsa yang merdeka.

Semua pendapat di atas bisa kita terima, dan itu memang masuk akal. Namun kenyataannya, perikop kita mencatat bahwa pada perjalanan itu, bangsa Israel tidak mengambil rute jalan-jalan yang dikuasai orang Filistin, melainkan melakukan perjalanan dengan cara berputar. Mengapa harus demikian? Bukankah kita seharusnya memilih jalan pintas, jalan yang lebih cepat agar sampai ke tempat tujuan? Itulah pemikiran manusia.

Memang jalan manusia, berbeda dengan jalan Tuhan. Rencana Tuhan, juga bukan rencana manusia. Tuhan punya rencana ilahi bagi umat-Nya. Dengan mengambil jalan berputar, Allah mengizinkan bangsa Israel secara bertahap menghadapi pelbagai macam kesulitan. Selain itu, Allah mengajarkan kepada bangsa Israel untuk selalu mau dipimpin dan bergantung kepada Tuhan. Allah sendiri yang akan menuntun umat-Nya menuju ke Kanaan.

Lalu bagaimana bangsa Israel tahu dan yakin bahwa Allah sendiri yang akan menuntun mereka? Ayat 21 dari perikop kita mengatakan, “Tuhan berjalan di depan mereka pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”.

Tiang awan dan tiang api berfungsi sebagai penuntun perjalanan mereka. Tiang tersebut menuntun bangsa Israel ke tempat yang sama sekali belum pernah mereka lalui. Tiang itu ada di depan mereka setiap saat. Bangsa Israel harus tetap mengacu pada keberadaan dan tuntunan awan tersebut. Ada saat-saat dimana awan itu bergerak dan diam. Pada waktu awan tersebut bergerak maka mereka pun harus mengikutinya.

Sebaliknya, ketika awan itu berdiam, maka itulah tanda dimana mereka harus berhenti dan memasang kemahnya. Ada pula saat-saat dimana awan tersebut terlihat naik dari tempatnya berdiam, yang berarti waktu ketika kemah harus dibongkar untuk bersiap melakukan perjalanan kembali. Jadi tiang awan dan tiang api adalah penuntun mereka!

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Bangsa Israel dalam perjalanan ini, tentu bertanya-tanya, ke arah mana mereka mau di bawa, harus melalui daerah seperti apa, apakah berbahaya? Mereka tidak tahu rintangan atau tantangan apa yang menghadang di depan. Tiang awan dan tiang api itulah, penuntun yang mengarahkan mereka pada perjalanan bersama Tuhan menuju Tanah Perjanjian.

Orang-orang yang dituntun oleh tiang awan dan tiang api, sebenarnya adalah orang-orang yang berada di dalam perlindungan (covering) Tuhan. Seperti saat ini di Eropa sudah musim dingin, kebanyakan kita memakai jaket atau mantel tebal dan hangat supaya tubuh kita terlindungi. Ketika ada angin kencang menerpa kita. Kita tetap aman karena berada di dalam perlindungan (covering) jaket atau mantel kita yang tebal dan hangat itu.

Sdr-sdr, setiap perjalanan kehidupan kita bersama Tuhan adalah sebuah perjalanan baru. Perjalanan yang seringkali, tidak terbayangkan dan tidak terduga oleh kita. Seperti ayat pembuka katakan dalam Yesaya 55:8 “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku”. Bukankah demikian dengan perjalanan hidup kita manusia. Karir atau pelayanan serta keberadaan kita hingga saat ini, bukankah sebuah ‘perjalanan’ yang kita harus lalui, sekalipun ketika kita menjalani, banyak pertanyaan, kebingungan dan hal-hal lain yang tidak dapat kita mengerti. Mengapa Tuhan membiarkan saya melewati jalan ini?

Perjalanan bersama Tuhan adalah perjalanan iman dan sekaligus suatu pertempuran rohani. Si iblis, lawan kita selalu berusaha menghalangi agar rencana perjalanan yang Tuhan sudah atur dan siapkan bagi kita, menjadi gagal. Itu sebabnya kita harus tetap fokus kepada tuntunan Tuhan dan tidak terpengaruh pada situasi atau kejadian yang ada di sekeliling kita.

Dengan hidup fokus ke depan, kita juga harus siap menghadapi realita baru dalam hidup kita. Jangan kita terus menoleh ke belakang. Jangan juga kita terus membayangkan atau bernostalgia dengan masa-masa indah sebelum pandemi ini terjadi. Kalau kita tidak siap dan terus menoleh ke belakang atau masa lalu maka kita akan bisa seperti istri Lot yang menjadi “tiang garam”. Kita tidak akan bergerak maju (move on) dalam perjalanan mengikut Tuhan.

Sdr-sdr, beberapa hari lagi, kita akan memasuki tahun yang baru, 2021. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi marilah kita tetap terus maju dan melangkah bersama dengan Tuhan. Memang tidak ada jaminan bahwa kalau kita mengikuti jalan Tuhan maka kita akan terbebas dari tantangan dan rintangan. Namun yang kita tahu dan yakin bahwa dalam perjalanan itu, tangan Tuhan akan selalu memegang tangan kita. Dia akan terus menuntun langkah kita. Ada sebuah lagu karya dari Ira Stanphill yang berjudul “I know who holds tomorrow” Kata-katanya seperti berikut:

1. Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.

Reff

Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

 

3. Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
Dipimpin-Nya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.

 

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,

Seperti lirik dalam lagu tadi, kita tidak tahu akan hari esok. Tetapi kita percayakan hidup kita kepada-Nya.  Mari coba kita perhatikan gambar ini.

Meskipun kita tidak melihat yang di depan, tetapi kita tetap percayakan diri kita pada Tuhan – Sang Pengemudi hidup kita. Percayalah pada Dia! Berita natal telah mengingatkan kita akan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Walaupun dunia dan hidup kita saat ini, terasa suram dan gelap. Namun Tuhan Yesus - Sang Terang telah datang dan menerangi hidup kita melalui kasih dan tuntunan-Nya. Sebagaimana harapan Natal yang disampaikan oleh Rafael, seorang anak dari KND; https://youtu.be/LC0JkbbeOZQ.

Tuhan memberkati kita semua.

AMIN