Pembacaan Alkitab: Kejadian 22:9-19

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Perikop ini adalah kelanjutan dari kotbah OLE tgl 22 januari yang lalu yakni kisah Abraham yang imannya diuji ketika ia harus mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal dan yang dikasihinya. Padahal Allah telah berjanji kepada Abraham untuk menjadinya Bapa dari banyak bangsa. Mengapa koq Allah seolah lupa akan janji-Nya dan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, sebagai korban bakaran? Bagaimana mungkin Abraham dapat menjadi Bapa dari banyak bangsa kalau Ishak satu-satunya pewaris keturunan keluarganya mau diambil?

Iman kita diuji justru ketika kita diperhadapkan dalam kesulitan dan merasa tidak berdaya. Apakah dalam situasi seperti itu, kita masih mempercayai dan mengandalkan Tuhan? Beriman berarti kita menyerahkan semuanya ke dalam tangan atau kedaulatan Tuhan. Dan kita harus siap menerima apa pun yang terjadi. Jangan kita berdoa dan berkata, kita sudah serahkan semua pada Tuhan, namun kita tidak siap kalau jawaban dari Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Setelah kita berdoa dan menyerahkan semuanya kepada kedaulatan Tuhan maka apa pun yang terjadi, kita yakin itu yang terbaik untuk kita. Tuhan kita bukan seperti mesin ATM (Automated Teller Machine) yang dapat diperintahkan sesuai dengan kehendak kita. Kalau kita memiliki kartu ATM atau bankpas, walaupun uang kita mungkin tidak banyak tetapi kita tetap punya “kontrol” untuk melakukan apa yang kita inginkan: mengambil, menyetor atau memindahkan uang kita. Mesin ATM siap untuk mengerjakan apa yang kita perintahkan.

Namun beriman kepada Tuhan, tidak demikian. Ketika beriman berarti kita menyerahkan semua, termasuk kehendak (juga kontrol) kita kepada kehendak Tuhan dan kita harus menerima apa pun hasilnya. Seperti perkataan Ayub kepada istrinya, yang men”teror”nya, “…Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”. Beriman berarti apa pun yang menjadi kehendak Tuhan itu walaupun tidak sesuai dengan kehendak kita tetapi kita prcaya bahwa itu merupakan yang terbaik untuk kita.

Mari kita kembali kepada kisah bagaimana iman Abraham diuji Tuhan. Kalau kita mengikuti kisah ini dari awal, ketika Abraham diminta Tuhan untuk mempersembahkan anak satu-satunya, yang amat berharga baginya dan sangat ia kasihi, Abraham menunjukkan ketaatannya pada perintah Tuhan. Ia tidak protes dan bertanya, “Mengapa?” tetapi ia segera melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Kita tahu bahwa perintah Tuhan ini sangat berat bagi Abraham. Apakah ia mau dan rela menyerahkan yang terbaik ia miliki kepada Tuhan? Apalagi ketika Ishak, anak yang mau dikorbankan ini, bertanya, “…di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Apa jawab Abraham? “…Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku”. Sungguh ini suatu pernyataan iman karena Abraham tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi ia tetap percaya dan beriman bahwa Tuhan akan menolongnya.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Ada peristiwa yang menarik mengenai ketaatan Abraham atas perintah Tuhan ini. Mengapa Allah ketika menguji iman Abraham, harus menunggu sampai ayat ke 10, yakni ketika Abraham dikatakan “…mengulurkan tangannya lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.”? Bukankah sebelumnya, Abraham telah menunjukkan ketaatannya. Tentu, ada banyak tafsiran mengenai ayat ini. Pada umumnya, tafsiran ayat ini menjelaskan bahwa Allah menunggu sampai Abraham benar-benar menunjukkan ketaatan penuh yang tulus yakni ketika ia rela mempersembahkan anaknya.

Namun ada tafsiran lainnya yang dapat melengkapi dan menolong kita untuk lebih memahami tindakan Abraham ini, yakni bahwa tindakan Abraham mengambil atau mencabut pisau, bukanlah tindakan biasa tetapi tindakan yang menunjukkan bahwa Abraham sungguh merelakan anak yang tunggal dan dikasihinya. Mengapa? Seperti juga tradisi atau kepercayaan di beberapa kebudayaan di Indonesia: pisau, keris atau badik itu juga dianggap sebagai alat yang mempunyai makna sakral dan mistis, jadi tidak boleh sembarangan diambil atau dicabut dari sarungnya.

Begitu juga dengan tradisi Yahudi, ketika seseorang mengambil atau mencabut pisau dari sarungnya, maka berarti pisau itu tidak dapat dimasukkan kembali ke sarungnya sebelum menumpahkan darah. Jadi ketika Abraham mencabut pisau dari sarungnya, Allah tahu bahwa Abraham benar-benar mau mempersembahkan anaknya. Oleh sebab itu, Allah berkata melalui malaikat-Nya dari langit, “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (ayat 12)

Melalui perikop ini, kita dapat belajar bagaimana iman Abraham benar-benar diuji. Apakah ia mau mendengar dan mengikuti perintah-Nya walaupun menurut sudut pandang manusia, perintah ini sungguh tidak logis atau tidak masuk akal dan tidak ber-prikemanusiaan. Namun ternyata di balik ini semua, ada rencana Tuhan untuk benar-benar mempersiapkan Abraham menjadi Bapa leluhur bangsa Israel – Umat Pilihan Allah.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Melalui peristiwa pengujian iman Abraham, kita dapat belajar mengenai langkah-langkah iman:

1. Iman merupakan hal yang paling sulit ketika apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan menghalanginya. Dalam kotbah OLE tgl 22 januari yang lalu, saya mengatakan Perintah Tuhan kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya, bertentangan dengan logika dan perasaan (kasih) manusia. Tetapi kalau kita mencoba memahami dari sudut pandang Allah, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Dan Dia adalah Allah yang Mahakuasa, maka perintah itu dapat lebih diterima.

Ketika harus kehilangan orang atau barang yang kita sayangi, wajar ketika mengajukan banyak pertanyaan. Mengapa Allah yang Mahakuasa tidak sanggup untuk mencegah kehilangan ini? Mengapa Allah mengaruniakan suatu pemberian kepada kita hanya untuk diambil kembali? Pelbagai argumentasi dan perasaan manusia dapat menghalangi iman. Asumsi, kemarahan, rasa bersalah dan kepahitan hidup dapat menguasai kita

Mengajukan pertanyaan “Mengapa?” tidak salah. Tetapi kita perlu juga melihat dari sudut pandang Allah sebagai “Sang Pemilik”. Jika kita menyakini bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita, bukankah Dia berhak untuk memintanya kembali? Kita manusia sering lupa bahwa semua yang ada pada kita termasuk hidup ini, bukan milik kita tapi milik Tuhan.

Kita sering menganggap dan memperlakukannya bahwa semua itu adalah milik kita karena kita telah berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, ketika kita harus kehilangan atau harus dikembalikan, maka kita tidak rela karena merasa bahwa semua itu adalah milik kita

Jadi ketika Tuhan mengambil kembali apa yang menjadi milik-Nya, apakah Dia tidak mempunyai suatu tujuan lain yang lebih indah, yang tidak kita mengerti? Karena cara pandang Allah melampaui cara pandang dan pemikiran manusia. Kalau kita mau dan dapat menerima kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita maka kita akan mengalami damai sejahtera dalam hati

2. Perjalananan iman Abraham dimulai dengan langkah pertama ketika ia bersiap menuju Moria. Allah tidak menyuruhnya untuk segera mempersembahkan Ishak. Pertama-tama Allah menyuruhnya melakukan hal yang sederhana: menyiapkan barang-barang, termasuk membawa Ishak dan meninggalkan rumahnya. (ayat 2-3) Kita harus meneladani Abraham untuk berani mengambil langkah pertama.

Jika kita menemukan bahwa beriman dan taat itu sulit maka minta pertolongan Tuhan untuk berani mengambil dan melakukan langkah pertama. Percayalah, selanjutnya Allah akan memimpin langkah berikutnya. Dalam perikop ini, ayat yang ke 13-14, kita lihat bagaimana pada akhirnya Allah benar-benar menyediakan Abraham domba jantan untuk dijadikan korban bakaran, pengganti anaknya. Dan untuk mengenangi peristiwa atau pengalaman iman ini maka Abraham menamakan tempat itu “Tuhan menyediakan” (ayat 14)

3. Iman itu aktif, tidak pasif. Ketika kita beriman, tidak berarti kita diam saja dan hanya menunggu sampai segala sesuatu terjadi. Dalam beriman, kita juga harus berusaha melakukan sebaik mungkin bagian kita. Kita harus berani melangkah. Seperti Abraham, tidak diam tetapi melakukan apa yang seharusnya menjadi bagiannya. Ia mempersiapkan segala sesuatu untuk memberi persembahan korban kepada Tuhan. Ia mengambil apa yang menjadi tanggung jawabnya, yakni apa yang dapat ia lakukan lalu menyerahkan sisanya kepada Tuhan. Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan, “Do your best and God will do de rest”

Iman Abraham diuji agar Abraham benar-benar dipersiapkan Allah untuk menjadi Bapa dari segala bangsa – Bapa orang percaya. Kisah pengorbanan Ishak ini, sebenarnya bukan Ishak yang diinginkan Allah, melainkan Abraham. Allah ingin agar tidak ada sesuatu yang menghalangi Dia dengan Abraham. Ishak adalah anak Abraham, anak tunggalnya, anak ayng dikasihinya. Ia bisa saja menghalangi hubungan Abraham dengan Allah.

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Dalam perjalanan iman kita sebagai pengikut Kristus, kita juga sering diperhadapkan dengan ujian atas iman kita atau disebut juga sebagai “Integrity Check”. Tujuannya adalah agar melalui pelbagai ujian itu, iman kita bisa terus bertumbuh. Ujian atas iman kita bisa datang dalam pelbagai bentuk: kehilangan orang-orang yang kita kasihi; kehilangan uang atau harta materi kita; mengalami kegagalan dan kepahitan hidup atau mengalami sakit penyakit yang tidak kita harapkan.

Tentu, tidak mudah ketika kita harus menghadapinya, sama seperti ketika kita harus mengikuti ujian di sekolah. Tidak mudah. Namun kalau kita berespon benar yakni walaupun kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi namun kita tetap percaya dan mengandalkan Tuhan maka kita tidak saja iman kita “naik kelas” yakni iman kita bertumbuh tetapi juga dapat memberi pengaruh atau dampak positif dan juga menjadi berkat untuk orang-orang atau lingkungan di sekitar kita.

Apa yang terjadi dengan Abraham? Ketika imannya diuji, ia tetap taat dan setia pada perintah Tuhan. Iman dan ketaatannya pada Tuhan ternyata tidak saja membuat iman Abraham bertumbuh tetapi ia dan keturunannya juga diberkati dengan berlimpah-limpah dan diberi banyak keturunan. Bahkan dalam ayat 18 dikatakan, “Oleh keturunanmulah semua bangsa dibumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan Firman-Ku”

Sdr-sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Ujian atas iman kita atau integrity-check ini berlangsung terus selama kita masih hidup di dunia ini. Mari kita perhatikan gambar siklus dari pertumbuhan iman.
Siapkah kita untuk mengambil perjalanan iman ini? Perjalanan iman ini, tidak mudah, tetapi akan membawa kita keluar dan melampaui daerah nyaman (comfort-zone) kita. Karena kita tidak berjalan sendiri. Tuhan akan menyertai kita disepanjang perjalanan iman ini dan sama seperti Abraham, kita akan mengalami bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang menolong dan menyediakan. Tuhan memberkati kita semua.

AMIN.